Seputar BAB Bayi

Tahun lalu, aku hampir muntah ketika ipar perempuanku menjelaskan isi popok bayinya. “Bagaimana mungkin dia bicara mengenai sesuatu yang sangat menjijikan dengan begitu santai?” Begitu pikirku. Tapi kemudian, aku pun menjadi orang tua. Dan tiba-tiba saja aku menjadi paham sepenuhnya.

Suatu hal yang menyedihkan, tapi ada benarnya. Sebagai orang tua, kita menghabiskan lebih banyak waktu daripada yang kita pikirkan untuk terobsesi dengan feses anak-anak kita. Jadi, berikut adalah panduan untuk segala yang selalu Anda pertanyakan, tapi mungkin takut diutarakan. Anda bisa memakai pengetahuan baru Anda untuk membuat pasangan maupun para ibu di playgroup merasa takjub, serta mengejutkan teman-teman Anda yang belum punya anak.

Seperti Apakah yang Normal?

Sekalipun ada panduan umum berdasarkan usia, setiap anak ternyata berbeda. “Yang dianggap normal untuk seorang anak, mungkin tidak demikian untuk anak yang lain,” kata Benjamin D. Gold, MD, profesor dan kepala divisi gastroenterologi, hepatologi, dan gizi anak di Emory University School of Medicine, Atlanta.

BAYI YANG BARU LAHIR (0-4 BULAN)

Seberapa sering: Sekitar empat kali sehari. Karena ASI sangat mudah dicerna, maka bayi yang diberi ASI akan BAB tiap kali setelah menyusu. Karena mereka memakai semua gizi untuk tumbuh, sejumlah bayi yang masih diberi ASI mungkin tidak BAB selama seminggu penuh. Namun, berkonsultasilah dengan dokter anak jika pola BAB anak Anda berubah secara signifikan.

Fakta: BAB pertama (disebut meconium) berwarna hitam, lengket seperti ter, dan feses itu mengandung segala macam yang bayi telan seperti cairan amniotik dan sel kulit mati. Bayi yang diberi ASI memiliki BAB yang berwarna kuning seperti mustard, sementara bayi yang sudah mengonsumsi susu formula memunyai BAB yang berwarna hijau dan kental.

BAYI (4-12 BULAN)

Seberapa sering: Tiga kali sehari.

Fakta: Karena bayi Anda makan lebih banyak makan-makanan padat, BAB-nya akan menjadi lebih kental, lebih bau. Ini semua “berkat” kerja cairan pencernaannya. Anda mungkin akan menemukan bahwa tempat pembuangan popok Anda yang cantik itu tidak bisa menghalangi bau yang keluar.

BATITA (1-3 TAHUN)

Seberapa sering: Dua hari sekali

Fakta: Batita adalah pengonsumsi makanan yang tidak bisa diprediksi sehingga pola buang air mereka juga bervariasi. “Selama anak Anda makan dengan baik dan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit, maka hal ini tak perlu dikhawatirkan,” kata Jennifer Shu, MD, penasihat Parents.

BALITA DAN ANAK USIA SEKOLAH (3 TAHUN DAN LEBIH)

Seberapa sering: Sekali sehari

Fakta: Saat anak Anda dilatih untuk menggunakan toilet, ada satu pelajaran penting yang bisa Anda ajarkan: “Saat kamu mau buang air, segeralah buang air!” kata Dr. Gold. Untuk menghindari sembelit, Anda harus mengingatkan anak Anda yang sedang sibuk untuk pergi ke toilet.   

DO:  

Buatlah jadwal. Luangkan 10 menit sedikitnya dua kali sehari untuk BAB, lebih baik setelah sarapan, makan siang, atau makan malam. Makan akan mengaktivasi “refleks gastrokolik” yang mendorong feses dari usus.

Jadikan ini kegiatan yang mudah dan menyenangkan. Sejumlah ahli berpikir bahwa pispot harus tetap ada di kamar mandi, tapi mungkin Anda bisa memertimbangkan agar pispot itu dekat dengan anak di setiap saat (bahkan pada saat dia sedang menonton). Selain itu, siapkan pula buku-buku yang bisa menghibur saat dia sedang berlatih menggunakan toilet.

Perlahan-lahan saja. Bila anak Anda masih ingin BAB di popoknya, bawalah dia ke kamar mandi saat dia akan buang air. Atau, minta dia jongkok di pispot untuk buang air dalam keadaan masih mengenakan popok, kata Ari Brown, MD, penasihat Parents yang sekaligus penulis Toddler 411.

Berikan pujian. Gunakan stiker, high five, dan banyak kata-kata pemberi semangat demi menunjukkan bahwa Anda bangga kepadanya.

DON’T:

Memburu-buru. “Anak-anak harus siap secara mental, verbal, dan fisik,” kata Dr. Shu. Yang berarti dia merasa tertarik untuk BAB, punya kosa kata yang berhubungan dengan BAB atau BAK, dan juga sudah bisa menarik celananya sendiri. Tanda-tanda kesiapan yang lain adalah, anak Anda lekas-lekas pergi ke tempat terdekat untuk bersembunyi atau ingin popoknya segera diganti.

Menekan. Bila si kecil merasakan bahwa Anda sudah putus asa, dia bisa membangkang demi mengontrol keadaan, khususnya jika akhir-akhir ini dia lebih sering bilang, “nggak mau” daripada “iya” terhadap banyak hal.

Menyepelekan rasa takutnya. “Beberapa anak punya rasa takut yang tidak masuk akal bahwa feses adalah bagian dari mereka, dan mereka tidak mau benda itu hilang di toilet,” kata Dr. Brown. Anda bisa membantu dengan menutup lubang toilet sebelum menyiramkan air lewat flush dengan menciptakan ritual khusus yang Anda akan lakukan berdua.

Menghukum. Kecuali Anda siap menghadapi kemunduran besar, jangan pernah memarahi anak Anda atau mengambil haknya (misalnya untuk menonton acara TV favorit) bila dia tidak mau ke toilet atau tanpa sengaja BAB di popoknya.

 

KEBENARAN YANG TIDAK MENYENANGKAN

Tidak  mudah untuk mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada dokter mengenai hal-hal khusus berikut ini.

Bau tidak sedap. “Bakteri normal yang ada di usus akan mengurai makanan dan menghasilkan gas serta bau,” kata Dr. Shu. Bau tidak sedap itu bisa berubah dari hari ke hari (atau bahkan dari popok ke popok), tergantung pada tipe makanan yang Anda makan.

Potongan makanan. Anak-anak yang masih kecil mungkin tidak mengunyah makanan mereka dengan benar. Jadi Anda tidak perlu terkejut (atau khawatir) jika ada potongan makanan ikut terbawa dalam fesesnya.

Warna yang aneh. Warna feses yang normal bisa bervariasi, mulai dari biru sampai hijau (warna normal dari cairan empedu). Antibiotika suplemen zat besi juga bisa mengakibatkan perubahan warna. Namun ada pengecualian, yakni warna hitam dan merah bisa menjadi tanda adanya perdarahan di jalur pencernaan, sementara warna putih atau coklat pucat bisa menjadi tanda adanya masalah di hati. Semua itu harus diperiksa.

BAB yang sangat banyak. Jika anak Anda mengalami peningkatan jumlah BAB dan bentuknya encer, maka sudah pasti dia mengalami diare. Hingga 90 persen kasus diare disebabkan oleh virus, dan biasanya akan sembuh dengan sendirinya. Antibiotika tidak akan membantu, dan Anda tidak perlu menggunakan obat diare yang dijual bebas kecuali dokter menyarankan. Minuman elektrolit untuk anak-anak akan bisa membantu anak untuk tidak kekurangan cairan, tapi biarkan dia makan apapun yang dia inginkan. Hubungi dokter jika anak Anda berusia kurang dari 6 bulan, telah mengalami diare yang berlangsung lebih dari seminggu, dan menunjukkan tanda-tanda dehidrasi (misalnya buang air seni tidak rutin, tidak mengeluarkan air mata saat menangis, atau mulut kering).

TETAPLAH BERSIH

Adakalanya segala sesuatunya menjadi kotor dan berantakan. Berikut adalah cara-cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya.

Pispot yang kotor. “Siramkan air ke dasar pispot sebelum anak Anda menggunakannya sehingga fesesnya tidak menempel,” kata Dr. Shu. Kemudian, buang feses itu ke dalam toilet. Gosok pispot dengan menggunakan sikat kamar mandi serta cairan pembersih. Kosongkan pispot jika masih ada yang tersisa.

BAB di bath tub. Anak-anak yang masih kecil cenderung bisa BAB di bath tub karena air hangat merilekskan otot-otot mereka. Saat itu terjadi, pindahkan anak dari bath tub lalu angkat feses tersebut untuk dibuang di toilet (gunakan gelas plastik sekali pakai). Keringkan bath tub dan gosok dengan cairan pembersih. Kemudian, rendam mainan yang biasa dipakai anak saat mandi di dalam ember yang telah dicampur dengan cairan pemutih.

BAB di celana. Buang feses yang padat ke dalam toilet. Cuci celana dengan menggunakan cairan pembersih atau deterjen yang mengandung pemutih dan bilas di air hangat.

« Previous article

Related Articles