Senam untuk Bayi

Senam yang menuntut setiap bagian tubuh untuk bergerak, pasti memberi banyak manfaat bagi kesehatan dan kebugaran. Tidak hanya para ibu yang bisa berolahraga sambil bersenang-senang dengan pergi ke gym, melainkan si bayi mungil juga bisa memetik manfaat dari senam. “Bagi bayi, senam berguna untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan fisik serta melatih otot agar dia siap menghadapi fase duduk, merangkak, berdiri, dan berjalan,” kata pakar rehabilitasi medik RS Cipto Mangunkusumo, Dr. Amendi Nasution, SpRM. Selain itu, senam juga memberi Anda pengetahuan seputar kemampuan fisik yang mampu dilakukan bayi pada usia tertentu. Dan yang tidak kalah penting, jika bayi memiliki masalah fisik maupun saraf, senam bayi bisa menjadi instrumen deteksi dini sekaligus berguna untuk penyembuhan.

Bayi sudah bisa dikenalkan dengan gerakan-gerakan senam sejak dia berusia 3 bulan yaitu ketika bayi sudah bisa mengangkat kepala dengan tegak. Bayi yang diberi bekal gerakan senam, memiliki tubuh yang lebih seimbang. Senam juga membuat bayi terampil melakukan berbagai posisi dan gerakan sesuai tahapan tumbuh kembang. Manfaat lain dari senam bayi adalah melancarkan peredaran darah dan menguatkan jantung. Senam bayi juga membiasakan anak berinteraksi dengan lingkungan. Karena dengan keseimbangan dan gerakan tubuh yang baik, bayi menumbuhkan rasa percaya diri untuk mengeksplorasi lingkungan dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Agar mendapat hasil yang optimal, sebaiknya senam bayi dilakukan rutin setiap pagi dan sore hari dengan durasi sekitar 10-15 menit satu kali senam.

Tiga tahapan

Ada tiga tahapan penting perkembangan bayi, sejak usia 0-12 bulan. Dalam setiap tahapan, diperlukan kesiapan otot dan sendi sehingga bayi bisa tumbuh optimal.

1. Fase tengkurap dan duduk

Dialami bayi usia 3–6 bulan. Kemungkinan besar bayi belum bisa duduk sendiri, namun Anda sudah bisa melatih kekuatan otot anak dengan cara meletakkan bayi dalam posisi duduk dalam gendongan Anda maupun di dalam kereta bayi. “Pada fase ini, gerakan senam bayi ditekankan pada penguatan otot punggung dan perut supaya bayi belajar duduk tegak,” kata Dr. Amendi. Mata bayi juga dirangsang untuk mengikuti gerakan dalam senam, yang bisa dilakukan dengan posisi bayi tengkurap atau telentang.

Pada usia 3 bulan, bayi tidur telentang dan menggerakkan lengan ke atas, ke samping, dan menyilang, untuk menguatkan otot lengan atas serta sendi bahu. Sementara untuk menguatkan tungkai atas dan sendi panggul, tekuk tungkai bayi ke arah perut dengan gerakan mengayuh dan memutar. Bagi bayi usia 4-6 bulan, persiapan bayi duduk bisa dilakukan antara lain dengan gerakan memangku bayi. Letakkan lengan ibu di bawah ketiak bayi dan genggam kedua kaki si mungil. Setelah itu, ibu bisa berlutut dan mengangkat bayi ke atas.

2. Fase merangkak

Dibutuhkan tangan dan kaki yang kuat untuk menopang tubuh bayi saat merangkak, yaitu ketika bayi berusia 6-9 bulan. Pada fase ini, diberi tambahan gerakan yang menguatkan otot lengan dan kaki, tanpa meninggalkan latihan sebelumnya yaitu penguatan otot punggung dan perut. Seorang pakar terapi okupasi, Marieta Visser, melakukan penelitian seputar pentingnya fase merangkak dalam tahapan perkembangan bayi. Hasil penelitian itu menunjukkan, kegiatan merangkak menguatkan sendi-sendi pada bahu, siku, pergelangan tangan bagian bawah, dan tangan secara keseluruhan. Kelenturan tangan dan perkembangan motorik juga dilatih saat merangkak. Bahkan, bayi yang melewati fase merangkak dengan baik, cenderung lebih mudah saat diajarkan memegang pensil kelak. Dr. Melodie de Jager, instruktur BabyGym, institusi yang bergerak di bidang stimulasi bayi 0-2 tahun, mengatakan, “Bayi memerlukan rata-rata 50.000 kali merangkak sebelum dia siap melangkah ke tahapan perkembangan selanjutnya.”

Dalam posisi tengkurap dan ibu duduk di belakang bayi, tarik panggul bayi ke posisi merangkak. Pertahankan posisi merangkak, lalu pegang panggul bayi dan tarik ke depan dan ke belakang. Bantu bayi mendorong kaki secara bergantian dengan memberikan tekanan-tekanan pada telapak kaki bayi.

3. Fase berdiri

Untuk menghadapi fase berdiri – kemudian berjalan – bayi sudah bisa dilatih dengan gerakan-gerakan senam sejak usia 9-12 bulan. Salah satu rangkaian gerakan yang bisa Anda praktikkan di rumah adalah biarkan bayi berlutut di depan meja atau guling kecil, pegang panggul bayi, lalu tarik ke posisi duduk dan kembalikan ke posisi berlutut. Dalam posisi berlutut, pegang lengan bawah bayi dan dorong agar tubuh dia menjadi tegak. Jika posisi berlutut sudah tegap, pegang panggul bayi, miringkan ke satu sisi sampai bayi menarik kaki ke depan dan mencoba berdiri.

Ikatan ibu dan bayi

Senam bayi sebaiknya dilakukan oleh ibu sebagai sosok yang paling dekat dengan si mungil. Namun, orang tua perlu mendapat latihan dari ahli fisioterapi agar tidak melakukan gerakan yang justru mencederai bayi dan demi mendapatkan hasil optimal dari senam bayi. Apalagi jika anak memiliki kelainan, misalnya lahir prematur, maka orang tua perlu berkonsultasi dengan fisioterapis.

Dokter anak David Gellar mengatakan bahwa senam bayi memberi Anda kesempatan untuk berinteraksi lebih intensif bersama si mungil. Dengan menggerakkan anggota tubuh si bayi, akan tercipta dialog antara ibu dan anak. Mempraktikkan senam bayi bisa menjadi salah satu sarana keterlibatan penuh orang tua dalam setiap fase perkembangan anak. Interaksi maksimal itu juga semakin menyadarkan orang tua bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Para ahli berpendapat, semakin besar keterlibatan orang tua terhadap tumbuh kembang anak, semakin besar pula kemampuan orang tua untuk mengarahkan anak menjadi pribadi yang berkualitas dan penuh percaya diri. 

Penting

Dalam buku Panduan Senam Bayi yang ditulis oleh Dra. Irawati Ch. Kusyairi, Dipl, Pt, fisioterapis dari RSAB Harapan Kita, Jakarta, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua sebelum memulai senam bayi:

1.      Senam dilakukan saat bayi dalam keadaan sehat.

2.      Jangan lakukan senam jika bayi dalam keadaan lapar, lelah, baru selesai makan, atau baru bangun tidur.

3.      Jika bayi mulai memperlihatkan tanda-tanda tidak suka, hentikan kegiatan senam dan beri pujian atau pelukan untuk menenangkan bayi.

4.      Lakukan observasi untuk mengetahui gerakan yang bisa dilakukan bayi dengan mudah maupun gerakan yang masih terlihat sulit dilakukan bayi.

5.      Gunakan kata-kata dan tindakan berulang setiap melakukan aktivitas agar bayi lebih mudah memahami gerakan-gerakan senam.

6.      Senam dapat dilakukan dua kali dalam satu hari atau kapanpun jika orang tua dan bayi siap.

« Previous article

Related Articles