Home » Kids

Saat Pendengarannya Terganggu

Riset telah membuktikan bahwa terganggunya pendengaran anak di usia batita akan berpengaruh pada kemampuan dan perkembangannya. David W. Teele, MD, profesor spesialis anak dari Boston University School of Medicine, melakukan penelitian yang melibatkan 207 orang murid SD berusia 7 tahun. Hasilnya, pada sebagian anak yang memiliki riwayat radang telinga tengah (otitis media), masalah pendengaran ini ternyata sudah terjadi  sejak mereka berusia di bawah 7 tahun.

Anak-anak yang memiliki gangguan pendengaran sejak usia dini -di bawah usia 3 tahun- memiliki kemampuan bicara dan belajar lebih rendah dibandingkan mereka yang mengalami gangguan tersebut di atas usia 3 tahun. Soalnya, tumbuh kembang anak berlangsung sangat pesat di bawah usia 3 tahun. Periode ini dikenal sebagai golden years tumbuh kembang anak.

FAKTOR PENCETUS

Penyebab gangguan pendengaran di usia batita dan sekolah memang beragam. Berbeda dengan kelainan bawaan (genetik), faktor luar seringkali menjadi penyebab masalah pada pendengaran anak di usia ini.

Dr. Ronny Suwento, Sp.THT(K), dari FKUI-RSCM, mengatakan bahwa salah satu faktor luar yang terkesan sepele tapi bisa membuat pendengaran anak terganggu adalah karena kotoran yang menyumbat di dalam liang telinga. ”Gangguan pendengaran yang terjadi disebut sebagai tuli konduksi atau tuli hantaran. Selain akibat kotoran di liang telinga, gangguan pendengaran jenis konduktif pada anak juga bisa disebabkan oleh radang telinga tengah (otitis media) yang kadang bisa disertai pengumpulan  cairan di bagian telinga tengah, -tepatnya di belakang gendang telinga.  Gangguan pendengaran akibat kerusakan di bagian telinga dalam, disebut sebagai tuli sensorineural atau tuli saraf,” paparnya.

Infeksi saluran pernapasan atas serta alergi juga merupakan pencetus yang bisa membuat terbentuknya cairan di telinga bagian tengah. Dokter yang juga aktif di Divisi THT Komunitas Departemen  THT FKUI/ RSCM ini menambahkan lagi, “Pada usia prasekolah, yang kerap terjadi adalah ketika si anak pilek dan terjadi infeksi, cairan dan kuman masuk ke bagian telinga tengah melalui saluran yang menghubungkan hidung dengan telinga tengah (tuba Eustachius). Karena tidak bisa keluar, cairan tersebut lalu terkumpul di dalam telinga tengah.“ Inilah yang membuat pendengaran anak terganggu.

Beberapa penelitian melaporkan bahwa anak yang masih minum susu dari botol atau ngempeng  pada usia di atas 2 tahun, cederung rentan mengalami radang telinga tengah.

OTITIS MEDIA

Pada anak usia prasekolah dan sekolah, radang telinga tengah ini yang paling sering terjadi. Udara yang tidak bisa keluar dan terjebak di bagian tengah, menyebabkan nyeri telinga dan rasa penuh di dalam telinga. Sedangkan cairan yang terjebak di balik gendang telinga bila volumenya cukup banyak dapat menjebol gendang telinga dari dalam, sehingga cairan tersebut akhirnya mengalir keluar melalui liang telinga yang robek. Bila cairan tersebut tetap keluar terus menerus atau hilang timbul selama 2 bulan maka akan terjadi Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK). Ini yang kerap disebut sebagai congek.

Seringkali anak menjadi demam serta rewel karena merasa nyeri pada telinganya. Demam baru turun dan rewel berkurang ketika gendang telinga akhirnya robek dan cairan bisa mengalir keluar. Bila pengumpulan cairan menetap tanpa disertai robekan gendang telinga, akan terjadi Otitis Media Efusi (OME). Jenis gangguan pendengaran pada OMSK dan OME adalah tuli konduktif.

Untuk mencegah robekan spontan yang luas  pada gendang telinga, bila dianggap perlu dokter THT akan melakukan sayatan kecil pada gendang telinga (miringotomi) sehingga cairan dari telinga tengah akan dapat mengalir keluar. Sayatan kecil ini biasanya akan bisa menutup kembali. Pada kasus OME yang berulang-ulang, dapat dipertimbangkan untuk memasang pipa ventilasi pada gendang telinga.

TES SEJAK DINI

Lantas bagaimana cara deteksi dini dan mengetahui gejala gangguan pendengaran pada anak? “Idealnya, orang tua mengikutkan anak untuk dites pendengaran sejak bayi (baru lahir). Namun bila screening tersebut terlewatkan, anak masih bisa mengikuti screening pendengaran  prasekolah dan murid sekolah,” jelas Dr. Ronny.

Dari sini akan segera diketahui bila ada kelainan pada fungsi pendengaran sejak dini, sehingga bisa segera dicari penanganan yang tepat. “Biasanya dokter akan melakukan otoskopi, yaitu pengecekan liang dan gendang telinga, serta apakah ada cairan atau pernah ada cairan di dalamnya. Setelah itu juga dilakukan timpanometri, alias memeriksa kondisi tengah telinga, serta audiometri. Yang terakhir ini adalah menentukan level pendengaran dan ada tidaknya gangguan pendengaran serta menentukan jenis ketulian, misalnya apakah pada ambang 25-30 desibel, anak masih bisa mendengar dengan baik,” jelasnya lagi.  Membawa si kecil ke dokter anak atau dokter THT bisa jadi langkah pencegahan dan jalan keluar yang tepat demi deteksi pendengaran sejak dini. 

« Previous article

Related Articles